Minggu, 13 September 2015

Pakaian Dalam Perempuan dan Buah Gagal Paham

Membaca pemberitaan media tentang beberapa tingkah demonstran. Selain bingung dengan tuntutan mundur yang tidak disertai kajian intelektualitas mendalam, saya pribadi lebih kaget dengan aksi nyeleneh beberapa demonstran. Aksi nyeleneh yang memakai pakaian dalam perempuan sebagai simbol perlawanan tanpa artikulasi yang jelas. Adanya jelas-jelas mengambang. Ada apa gerangan dengan berulangnya kejadian yang memalukan demikian?

Saya bukan seorang aktivis dari kaum feminis. Tetapi jangankan mereka yang bakal muak dan marah besar dengan rendahnya nalar para demonstran, saya sendiri merasa mual. Bagaimana tidak, irisan identitas sebagai seorang yang pernah turut berdemonstrasi di jalanan membuat saya malu. Malu pada kualitas intelektual mereka-mereka yang sering gagal paham dalam menggunakan pakaian dalam perempuan di dalam sebuah aksi demonstrasi yang mestinya mewakili kepentingan publik atau kepentingan golongan yang termarginalkan. Bukan mewakiliki kepentingan segelintir orang yang berkepentingan menciptakan sensasi belaka.

Pakaian dalam perempuan yang dipakai para demonstran bagi saya merupakan ungkapan kelas pemikiraan mereka. Cara berpikir mereka selain mempermalukan diri sendiri, juga mempermalukan kekuatan sosok perempuan yang dengan taruhan nyawa melahirkan mereka. Mereka mempermalukan rahim ibunya sendiri dengan mencoba mengasosiasikan pakaian dalam wanita sebagai

Jumat, 04 September 2015

Paradoks Pengungsi Timur Tengah di Eropa

[caption caption="Karikatur yang menunjukkan paradoks di Timur Tengah"][/caption]
Ketika mendapati kartun ini pada dinding sosial media seorang teman di Italia, saya termenung sejenak. Menyadari betapa dalamnya pesan yang pantas kita renungkan. Sebuah paradoks dari sebuah isu global tentang pengungsi Timur Tengah dan dari berbagai negara lain termasuk dari Afrika yang kini membanjiri Eropa.

Saya pribadi merasa bahwa tak pantas ada seseorang yang membutuhkan pertolongan ditolak. Apalagi seperti para pengungsi dari Suriah yang terombang-ambing di lautan hingga baru-baru ini foto seorang bocah pengungsi yang tewas terdampar di tepi pantai, menampar wajah dunia kita. Bagaimana pun kita paham sebagaimana menerima tamu, rumah kita selalu punya aturan sendiri. Namun mengusir tamu dan membiarkan mereka mati di depan pintu rumah kita rasanya sungguh membuat miris.

Itulah sebabnya dalam pandangan pribadi saya, Eropa mesti menyiapkan kebijakan lebih arif dalam menerima para pengungsi. Terlepas bahwa Eropa mesti menaruh prioritas kemanusiaan pada

Sabtu, 22 Agustus 2015

TANAH, HAK DAN PERLAWANAN

"Waspadalah dengan apa yang kita lihat dan apa yang tidak kita lihat. Waspadalah pada apa yang kita dengar dan apa yang tidak kita dengar. Waspadalah dengan apa yang kita rasa dan apa yang belum kita rasakan" - Tse

Pada akhirnya engkau yang dimiskinkan dan dibiarkan liar oleh ketidakadilan, penindasanlah takdirmu. Pada akhirnya mereka yang berkuasa atas kekayaan dan menjadi pemilik kuasa agraria, merekalah yang menentukan takdirmu. Kecuali engkau dengan segala keterbatasanmu melakukan perlawanan.
Engkau boleh dicap sebagai pembangkang, penyerobot sepetak lahan negara. Sebagian lagi diberi ribuan hingga jutaan hektar lahan bahkan pulau-pulau yang konon disebut milik negara. Masih kurang, bahkan lautan pun diberikan untuk disulap menjadi lahan baru tempat pemilik kuasa membangun pulau reklamasi yang mereka sebut demi kepentinganmu. Mereka sebagaimana dirimu disebut provokator, diberi nama sebagai investor. Apa yang membedakan adalah kuasa menentukan takdir menjadi milik mereka, tak lagi ditangan Tuhan yang engkau percaya. Tak lagi ditanganmu yang memberi mereka mandat saat pemilihan.
Pada akhirnya padamulah kuasa sebuah pilihan. Dengan segala keterbatasanmu pergilah menghadapi sepatu laras panjang milik kekuasaan. LAWAN!!

Minggu, 19 Januari 2014

Dukung Petisi Pendidikan tuk Sinabung


Sejak erupsi Sinabung pada September 2013 dampaknya semakin meluas hingga hari ini. Puluhan ribu hektar lahan pertanian rusak, perekonomian masyarakat terganggu dan lebih dari 25.000 jiwa terpaksa mengungsi. Berbulan-bulan hidup dalam ketidakpastian dan penanganan bencana yang belum maksimal melahirkan persoalan-persoalan sosial ekonomi baru. 
Salah satu hal yang paling dikhawatirkan para pengungsi adalah masa depan pendidikan puteri-putera mereka yang menempuh studi di berbagai sekolah dan perguruan tinggi. Dapat dipastikan akibat bencana ini sumber mata pencaharian pengungsi yang sebagian besar petani telah terhenti. Tentu saja dukungan pembiayaan untuk studi dan hidup anak-anak mereka di perantauan menjadi terganggu. 
Gerakan Solidaritas Oentoek Sinabung (SOS) digalang oleh beberapa rekan muda di Yogyakarta dari lintas komunitas untuk mencoba mengingatkan publik akan arti pentingnya penanggulangan dampak bencana yang mengancam masa depan pendidikan puteri-putera survivor Sinabung. Gerakan kecil yang terbatas ini tidak mampu berbuat lebih tanpa dukungan publik. Banyak permohonan dukungan dari berbagai kota atas kondisi keuangan keluarga di pengungsian yang kesulitan mendukung pendidikan mereka. Sementara itu tak banyak perguruan tinggi yang cukup peka terhadap situasi mereka. 
Untuk itu bersama mari kita meminta Pemerintah Pusat dalam hal ini Menteri Pendidikan dan Kebudayaan agar segera melakukan tindakan nyata melalui kebijakan penanggulangan bencana baru, bencana putusnya pendidikan puteri-putera survivor Sinabung. Mari dukung petisi ini agar Mendikbud memberikan jaminan pendidikan baik beasiswa dan sejenisnya untuk menyelamatkan masa depan pendidikan mereka.


Dukung dan swarakan harapan para survivor Sinabung!

Kordinator Eksekutif
Jangkar Nusantara


Thomas Robiana Sembiring
Untuk mendukung kunjungi Change.org