KILAS PANDANG

Sekitar medio Juni 2013 beberapa kawan muda berdiskusi seputar peran apa yang dapat diambil dalam upaya membangun Indonesia yang lebih baik. Peran kecil apa yang yang dapat diberikan dalam keterbatasan mahasiswa yang saat ini mengalami keterbatasan gerak oleh kencangnya arus industrialisasi pendidikan. Tidak banyak kawan muda yang dapat terlibat lebih jauh melalui berbagai aktivitas kemahasiswaan intra maupun ekstra kampus. Begitu pula kawan muda yang telah bekerja, sulit untuk berdinamika di lapangan kendati hasrat dan semangat mereka masih bernyala.

Lewat pendiskusian panjang untuk mencari sarana perjuangan dan keterlibatan gerak menuju Indonesia yang lebih baik, terpikir kondisi bangsa yang terpuruk oleh merebaknya ketidakadilan dan merosotnya penjabaran nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Korupsi merebak, gonjang-ganjing politik semakin kencang, konflik sosial pun berkembang di pelbagai daerah. Tumbuh kesadaran akan pentingnya keadilan yang berujung pada terciptanya perdamaian. Sebab tidaklah akan ada kemajuan sebuah bangsa dalam kondisi ketidakadilan yang masih merebak dan perdamaian yang terkoyak. Terlebih bila bangsa ini pada akhirnya abai terhadap nilai dan arah perjuangan bangsa seturut Falsafah hidup berbangsa kita yakni Pancasila.

Diskusi yang panjang melahirkan format gerakan berbasis digital. Menyambut konsep beberapa rekan aktivis hebat di Jakarta yang menggagas DINAMO (Digital National Movement) beberapa waktu lalu bersama Usman Hamid, dkk. Kendati hanya mendengar melalui media, semangat yang sama menarik untuk diserap dan ditindaklanjuti dalam keterbatasan yang ada. Maka pada akhirnya model gerakan sudah ditemukan. Sementara itu nama belum terpikirkan. Masih sebatas wacana nama Jangkar Nusantara dan satu nama lain aktiPEACE. Sampai disitu hasrat diskusi itu berujung buntu sebab tak semua dapat menunjukkan niat dan itikad yang sama karena keterbatasan anggota diskusi.

Pada pertengahan September kesempatan dadakan untuk memfasilitasi kegiatan Dialog antara Mahasiswa Kalimantan Barat dan seorang Senator dari Dewan Perwakilan Daerah, Maria Goreti. Keterbatasan memikirkan penyelenggara untuk memfasilitasi pertemuan tersebut memaksa Jangkar Nusantara untuk lahir "prematur". Pada akhirnya keberanian untuk melangkah dalam keterbatasan yang memantapkan niat untuk memakai nama tersebut sebagai wadah baru gerakan untuk keadilan dan perdamaian. Pada 13 September 2013 secara khusus embrio gerakan itu muncul di permukaan. Itulah tanda dan kelahiran publik Jangkar Nusantara yang kini hadir.

Sebagai sebuah gerakan sederhana dari beberapa kawan muda, Jangkar Nusantara belum memiliki bentuk organisasi yang formal. Telah dipikirkan namun keterbatasan ini membutuhkan tantangan. Pada titik inilah kami mengundang siapapun yang memiliki komitmen dan visi akan Indonesia yang damai dan berkeadilan. Bergerak dalam keterbatasan, menggunakan sarana teknologi untuk membangun diskusi dan merawat bayi "prematur" gerakan ini agar dapat tumbuh berkembang.

Kelak diharapkan, mereka yang mengalami kegelisahan yang sama dengan kami serta menghadapi keterbatasan ruang dan waktu, dapat bergabung bersama kami. Bersama kami di Jangkar Nusantara, Justice and Peace Movement. Anda tertarik? Mari bergabung ...


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan tinggalkan catatan, komentar atau saran. Terima kasih