Minggu, 13 September 2015

Pakaian Dalam Perempuan dan Buah Gagal Paham

Membaca pemberitaan media tentang beberapa tingkah demonstran. Selain bingung dengan tuntutan mundur yang tidak disertai kajian intelektualitas mendalam, saya pribadi lebih kaget dengan aksi nyeleneh beberapa demonstran. Aksi nyeleneh yang memakai pakaian dalam perempuan sebagai simbol perlawanan tanpa artikulasi yang jelas. Adanya jelas-jelas mengambang. Ada apa gerangan dengan berulangnya kejadian yang memalukan demikian?

Saya bukan seorang aktivis dari kaum feminis. Tetapi jangankan mereka yang bakal muak dan marah besar dengan rendahnya nalar para demonstran, saya sendiri merasa mual. Bagaimana tidak, irisan identitas sebagai seorang yang pernah turut berdemonstrasi di jalanan membuat saya malu. Malu pada kualitas intelektual mereka-mereka yang sering gagal paham dalam menggunakan pakaian dalam perempuan di dalam sebuah aksi demonstrasi yang mestinya mewakili kepentingan publik atau kepentingan golongan yang termarginalkan. Bukan mewakiliki kepentingan segelintir orang yang berkepentingan menciptakan sensasi belaka.

Pakaian dalam perempuan yang dipakai para demonstran bagi saya merupakan ungkapan kelas pemikiraan mereka. Cara berpikir mereka selain mempermalukan diri sendiri, juga mempermalukan kekuatan sosok perempuan yang dengan taruhan nyawa melahirkan mereka. Mereka mempermalukan rahim ibunya sendiri dengan mencoba mengasosiasikan pakaian dalam wanita sebagai
simbol lemahnya kepemimpinan rezim.

Jika mereka saja lupa bagaimana kehebatan ibunya sendiri, maka jangan heran mereka tidak akan belajar sejarah para pahlawan nasional dari kalangan perempuan. Mereka akan enggan melakukan riset dan pembacaan atas perjuangan para perempuan dan ibu di sekitar mereka. Apalagi melacak jejak perjuangan para perempuan di berbagai daerah di Indonesia. Mulai dari perlawanan para perempuan di Aceh, Rembang, Sumatera hingga mama-mama di Papua sana.

Mereka tidak akan mau kenal kekuatan dan pengorbanan seorang Sarinah yang mengasuh seorang pemimpin revolusioner sekelas Soekarno, Marsinah yang tewas memperjuangkan hak-hak kaum buruh di Porong, hingga Eva Bande yang memperjuangkan hak tani di Banggai, Sulawesi Tengah hingga akhirnya mendekam menahan ngerinya hidup dibalik tembok penjara.

Kawan-kawan muda dan mahasiswa, kami yang pernah juga menjadi demonstran dan sampai hari ini kiranya masih seorang demonstran lewat media berbeda, sebaiknya banyaklah anda sekalian melatih nalar. Demonstrasi pertama-tama adalah pada diri sendiri, oleh diri sendiri sebelum akhirnya keluar ke publik. Agar jangan sampai demonstrasi hanya aktivitas masturbasi intelektualitas. Enak untuk diri sendiri tapi gagal menyuarakan kebenaran secara berkualitas.

Bahkan bila kemudian para demonstran ini membantah aksinya mempermalukan perempuan, berdalih mengasosiasikan pakaian dalam dengan para banci sebagaimana ditulis di spanduknya. Saya yakin juga gagal paham mengenal kekuatan kelompok marginal yang dicap sebagai banci ini. Entahlah bila mereka berani berhadapan dan membandingkan kualitas kekuatan mereka dengan kelompok marginal yang mereka namai banci itu.

Jadi aksi demikian yang memakai simbol pakaian dalam perempuan, semoga tidak pernah terulang lagi. Sudah gagal paham memakai simbol perlawanan, gagal menentukan momen perjuangan, gagal menyajikan dialektika publik yang mencerdaskan, gagal menyusun kajian intelektual atas tuntutan, mudahan tidak gagal juga menyelesaikan tanggungjawab pendidikan. Bila mereka para demonstran memang benar seorang mahasiswa dengan kapasitas intelektual yang semestinya melekat.
Mahasiswa atau demonstran lainnya, hari ini diajak oleh Cak Lontong buat Mikir ... Mikir ... Mikir!!!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan tinggalkan catatan, komentar atau saran. Terima kasih